Acara yang diselenggarakan bersamaan dengan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia itu berlangsung penuh kekhidmatan dan kebersamaan. Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran Pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah MWC NU Watulimo, Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah NU Ranting se-Kecamatan Watulimo, Pengurus Anak Ranting NU se-Desa Karanggandu, serta Takmir Masjid Darus Tsanawi selaku tuan rumah.
Kegiatan dibuka dengan pengantar oleh Murdiyanto, Wakil Sekretaris MWC NU Watulimo. Dalam pengantarnya, ia menekankan pentingnya menjaga tradisi pertemuan rutin sebagai media konsolidasi dan penguatan ukhuwah.
“Naharul Ijtima’ bukan sekadar forum pertemuan, tetapi ruang silaturahim, tabarrukan, sekaligus konsolidasi perjuangan NU di tingkat bawah hingga atas,” ujar Murdiyanto.
Sambutan berikutnya datang dari Shahibul Bait, yaitu Pengurus NU Ranting Karanggandu yang diwakili oleh Kyai Saeroji (Rais Syuriyah Ranting NU Karanggandu) dan Kyai Ahmad Kholik (Wakil Ketua Tanfidziyah Ranting NU Karanggandu).
“Kami merasa bangga Karanggandu menjadi tuan rumah Naharul Ijtima’ di hari kemerdekaan ini. Semoga membawa keberkahan bagi warga dan jamaah NU di desa kami,” tutur Kyai Saeroji.
Puncak acara ditandai dengan sambutan Ketua MWC NU Watulimo, Kyai Leif Sulaiman. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh jajaran pengurus NU untuk mengambil spirit kemerdekaan dalam mengelola organisasi.
“Kemerdekaan ini adalah anugerah Allah yang diperjuangkan dengan darah dan air mata para pejuang bangsa, termasuk para ulama dan santri. Maka, tugas kita sebagai generasi penerus NU adalah melanjutkan perjuangan itu melalui khidmah di jam’iyyah dan masyarakat,” tegasnya.
Setelah sambutan, acara berlanjut dengan musyawarah bersama yang membahas langkah-langkah strategis organisasi. Beberapa poin penting yang menjadi perhatian antara lain:
-
Pendataan Aset NU yang disampaikan oleh Kyai Chalimy Anwar, sebagai upaya menjaga dan merawat aset-aset jam’iyyah agar bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan umat.
“Aset NU harus kita rawat, kita data, dan kita kelola dengan baik. Karena itu adalah amanah jamaah yang harus dijaga demi keberlangsungan perjuangan NU,” ujarnya.
-
Informasi tentang Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh Nahdlatul Ulama (KBIHU NU) yang disampaikan oleh H. Juwito, memberikan gambaran peran NU dalam membimbing jamaah haji dan umroh dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah.
“NU hadir bukan hanya di bidang sosial dan pendidikan, tetapi juga dalam bimbingan ibadah haji dan umroh, agar jamaah kita mendapatkan bimbingan yang benar sesuai manhaj Aswaja,” jelasnya.
-
Informasi Kaderisasi PD-PKPNU berbasis Masjid/Mushola oleh Murdiyanto, yang menekankan pentingnya kaderisasi berjenjang dimulai dari lingkungan ibadah sebagai pusat pembinaan umat.
“Masjid dan mushola adalah basis pergerakan NU. Maka kaderisasi yang berbasis masjid/mushola akan lebih membumi, berkelanjutan, dan tepat sasaran,” terang Murdiyanto.
-
Peran NU di Segala Lini Kehidupan disampaikan oleh K.H. Thohirin, yang menegaskan bahwa NU tidak boleh hanya hadir di forum keagamaan, tetapi juga harus memberi kontribusi nyata dalam pendidikan, sosial, ekonomi, dan kebangsaan.
“NU harus tampil di segala bidang, baik agama, sosial, politik, ekonomi, hingga kebudayaan. Karena NU adalah bagian dari denyut nadi bangsa ini,” tegas beliau.
Musyawarah ini diakhiri dengan doa penutup yang dipanjatkan dengan penuh kekhidmatan, memohon keberkahan, kelancaran program, serta istiqamah dalam perjuangan.
“NU dan Indonesia adalah satu tarikan nafas, tidak bisa dipisahkan. Sejarah membuktikan, kemerdekaan bangsa ini lahir dari perjuangan ulama dan santri. Maka menjaga NU berarti menjaga NKRI,” ungkap salah seorang peserta musyawarah.
Dengan penuh semangat dan kebersamaan, Naharul Ijtima’ MWC NU Watulimo di Karanggandu menutup rangkaian acara dengan tekad memperkuat khidmah jam’iyyah serta meneguhkan komitmen kebangsaan dalam bingkai peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.
Kontributor : Tim Media MWC NU Watulimo
.









