Selasa, 08 Maret 2022

Kyai As'ad Syamsul Arifin | Sang Penakluk Preman Tapal Kuda


Peneliti luar negeri yang mengikuti perkembangan Nahdlatul Ulama (NU), Martin Van Breinessen menyebutkan bahwa di masa silam Kiai As'ad  Syamsul Arifin menjadi salah satu ulama paling berpengaruh di Jawa. 
Bahkan, pada masa penjajahan, Pesantren Sukorejo yang didirikannya tidak hanya dikenal sebagai lembaga pendidikan agama, tapi juga markas perjuangan.

Pesantren Sukorejo berkembang pesat dan pada tahun 1980-an menjadi salah satu pesantren terbesar di Pulau Jawa. Pesantren itu tidak hanya menawarkan pendidikan tingkat menengah, melainkan juga pendidikan tinggi Islam.

Kiai As’ad juga dikenal memiliki ilmu silat, kekebalan dan kanuragan. Ilmu itu disempurnakan dengan beberapa wirid dan amalan yang dilakukan selama hidupnya.

Inspirator Kiai As’ad terkait ilmu silat, kekebalan dan kanuragan tidak lain ialah ayahandanya sendiri, yakni Kiai Syamsul Arifin. Kiai Syamsul pernah menjelaskan kepada anaknya betapa pentingnya ilmu silat bagi seorang kiai. 

“Lah, kamu ini mau jadi kiai kok tidak bisa pencak! Mengetahui pencak itu sunnah! Tidak ada sahabat nabi yang loyo! Mereka itu gagah,” ujar Kiai Syamsul.

Selanjutnya, Kiai As’ad berguru kepada Kiai Abdul Majid yang dikenal dengan ilmu kanuragannya. Mempelajari ilmu kanuragan menjadi medium perjuangan dan dakwah. Melalui ilmu itu, Kiai As’ad berjuang mengusir penjajah.

Selain itu, beliau juga menggunakan ilmu ini untuk berdakwah di kalangan “hitam” seperti preman, bramacorah, dan kaum pinggiran lain. Dakwah Kiai As’ad tidak terbatas di musala, masjid, dan pengajian umum, melainkan juga turun langsung menemui kalangan “hitam” di masyarakat.

Sebelum melakukan dakwah pada kaum pinggiran, Kiai As’ad mengirim meminta orang kepercayaannya untuk mendata para preman paling ditakuti di masyarakat. Setelah data didapat, Kiai As’ad meminta dipertemukan dengan mereka.

Uniknya, pertemuan mereka segera mewujud jadi akrab. Para preman seperti menemukan keakraban, ketenangan dan kenyamanan pada diri Kiai As’ad. Dengan demikian, mudah bagi Kiai As’ad untuk mengatur tema obrolan, yang tak jarang diselingi humor sehingga menambah suasana keakraban.

Para preman itu pulang dengan membawa cerita mengesankan pertemuannya dengan Kiai As’ad. Mereka mengabarkan itu kepada para preman yang lain. Bahkan, para preman yang paling ditakuti itu juga mengingat bacaan-bacaan yang disampaikan Kiai As’ad. Berkat pertemuan itu, para preman sontak tertarik dan ingin bertemu Kiai As’ad. Bagi mereka, Kiai As’ad bak pohon rindang yang sejuk dan meneduhkan.

Setelah berhasil menaklukkan para preman, Kiai As’ad mengorganisir kekuatan mereka untuk medium perjuangan melawan penjajah. Selain itu, mereka juga selalu dilibatkan dalam berbagai kegiatan di Pesantren Sukorejo, seperti mengumpulkan kebutuhan logistik dan menjaga keamanan dalam kegiatan Munas dan Muktamar 1983-1984, pembangunan pesantren dan kegiatan lain.

Pada sebuah kesempatan, Kiai As’ad menjelaskan alasannya melibatkan kaum “hitam” dalam berbagai kegiatan di pondok pesantren. 

“Saya meminta bantuan Pelopor dalam membangun Pesantren Sukorejo, mengapa? Mungkin yang masih seneng maen (judi, red) lantaran ikut mencari bambu akan berhenti maen, yang masih senang mencuri berhenti jadi maling berkat membantu pesantren”.

Paguyuban santri Kiai As’d yang terdiri dari mantan preman, penjudi, perampok, pembunuh, dan orang-orang yang memiliki catatan hitam di masyarakat ini dikenal dengan nama Pelopor. Kiai As’ad mengayomi mereka, bahkan hingga memberi jaminan sampai ke akhirat kelak.

“Siapa saja bajingan yang bahkan melakukan dosa paling berat pun tetapi ikut perintah dan arahan saya, kelak di akhirat bergabung, kalau tidak ada di surga saya akan mencarinya,” tegas Kiai As’ad.

Minggu, 06 Maret 2022

Peringatan Harlah NU di Watulimo; Sebagai Sarana Untuk Meningkatkan Kualitas Pengurus dan Kader NU dalam Khidmah di Organisasi


NUWAGA Online – Blimbing (6/3/2022) Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Watulimo menggelar Peringatan Hari Lahir Ke-99 Nahdlatul Ulama. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Hidayaturrohman yang beralamat di Dukuh Blimbing Desa Watulimo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.

.

Pada kegiatan kali ini, MWC NU Watulimo melaksanakan Peringatan Harlah NU beda dari peringatan sebelumnya. Dimana acaranya dikemas dalam bentuk 3 in 1, yaitu tiga moment/event dalam satu acara/kegiatan yang meliputi peringatan Harlah NU, Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW dan Megengan Kubro.


Peringatan Harlah NU tersebut oleh MWC NU Watulimo diisi dengan Doa Bersama (Dzikir Bersama) yang dipimpin oleh Bapak KH. Suryani (Rais Syuriyah MWC NU Watulimo) dan dilanjutkan dengan Sambutan oleh Ketua Tanfidziyah, yaitu Bapak Kyai Leif Sulaiman, M.Pd. Dalam sambutannya bapak leif menyampaikan beberapa poin penting diantaranya bahwa Pengurus NU harus memiliki jiwa dan semangat untuk berkhidmah di organisasi sebagai Kader militan. Kader yang tidak gampang mutungan dan harus selalu berinovasi untuk menjadikan Jam’iyyah dari hari ke hari semakin lebih baik dan bermanfaat untuk umat.

.

“Kader NU harus optimis dalam segala hal, tidak gampang mutungan dan berupaya untuk menjadikan diri pribadi dan organisasi semakin lebih baik, lebih professional dan lebih bermanfaat untuk umat” begitu terangnya.


Ketua MWC yang kesehariannya berprofesi sebagai ASN dan pimpinan disalah satu Sekolah di Kabupaten Trenggalek tersebut tidak bosan-bosannya untuk menyemangati para pengurus NU dan Banom NU untuk semakin berbenah diri. Kualitas Pengurus harus selalu diupgrade, agar mampu menyesuaikan dengan kebutuhan zaman mengingat saat ini eranya teknologi digital yang mau tidak mau segenap jajaran pengurus harus beradaptasi dengan hal tersebut.

.

Dilain hal, Ketua MWC juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pengurus Ranting NU, Pimpinan Lembaga MWC, dan Pimpinan Banom NU yang selalu berinovasi untuk menjadikan organisasi semakin lebih baik dan lebih kreatif dalam karya dan kegiatan.

.

Puncak acara Harlah NU dan Peringatan Isro’ Mi’roj diisi dengan ceramah agama oleh bapak Drs. KH. Imam Musaji, selaku wakil Rais Syuriyah MWC NU Watulimo. Beliau menyampaikan tentang Hikmah Isro’ Mi’roj dan relevansinya dalam berorganisasi di Nahdlatul Ulama. Sebagai kader dan pengurus NU, kita harus mencontoh kepada pemimpin Dunia dan Akhirat yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW, karena hanya beliaulah Manusia yang paling sempurna dan terjaga dari dosa (ma’shum).


“Sebagai Kader/Pengurus NU kita harus dan wajib meneladani pemimpin kita, yaitu Baginda Rasululloh SAW, kita wajib melaksanakan syariat yang beliau sampaikan kepada umatnya yaitu ajaran Islam Ahlussunnah waljamaah” begitu dawuhnya.

.

Hadir pada kegiatan peringatan Harlah NU, Isro’ Mi’roj dan Megengan Kubro antara lain; segenap jajaran Pengurus MWC NU Watulimo, Pengurus Ranting NU se-Kec. Watulimo, Banom NU tingkat PAC meliputi : Pengurus PAC GP. Ansor dan Satkoryon Banser Watulimo, Pengurus PAC Muslimat NU, PAC Fatayat NU, PAC IPNU-IPPNU dan Ketua PAC IPSNU Pagar Nusa Kecamatan Watulimo.

.

Alhamdulillah, secara keseluruhan kegiatan yang dipandu oleh sahabat Murdiyanto (Ketua PAC GP. Ansor Watulimo) tersebut telah terlaksana dengan baik, lancar, aman dan sukses dengan harapan semoga membawa kemanfaatan dan keberkahan untuk semuanya. Aamiin (MY)


Kontributor : Myanto

Fotografer : Fahmi NH