Jumat, 04 Februari 2022

Profil KH. Marzuqi Mustamar (Ketua PWNU Jawa Timur)


Penampilan beliau sederhana dan apa adanya. Beliau tidak pernah neko-neko. Karena begitu sederhananya, kadang orang tidak mengira bahwa beliau adalah seorang kyai. Di balik kesederhanaan beliau tersimpan lautan ilmu yang begitu luas. Kiprah beliau di masyarakat sudah tidak diragukan lagi. Gaya bicara beliau yang tegas dan lugas menjadi salah satu ciri khas beliau.

Lahir

KH Marzuqi Mustamar lahir di Blitar tanggal 22 September 1966. Sungguh beruntung Kyai Marzuqi karena dilahirkan dalam keluarga yang taat beribadah sekaligus mengerti agama. Ya, abahnya adalah seorang kyai. Alhasil, sejak kecil Kyai Marzuqi dibesarkan dan dididik oleh kedua orang tua beliau dengan disiplin ilmu yang tinggi. Di bawah pengawasan orang tua beliau inilah putra dari Kyai Mustamar dan Nyai Siti Jainab ini mulai belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama.

Keluarga

Pada tahun 1994, KH Marzuqi Mustamar memulai hidup baru. Beliau mempersunting salah seorang santriwati Pondok Nurul Huda yang bernama Saidah. Sang istri merupakan putri Kyai Ahmad Nur yang berasal dari Lamongan. Kyai Marzuqi sangat bersyukur sekali sebab gadis yang menjadi pendamping hidup beliau adalah seorang hafidzoh (hafal Al-qur’an).

Istri: Hj. Saidah
Putra-Putri:
1.Habib Nur Ahmad
2.Diana Nabila
3.Millah Shofiya
4.M. ‘Izzal Maula
5.‘Izza Nadila
6.Rossa Rahmania
7.Dina Roisah Kamila

Pendidikan

Selain dididik disiplin ilmu yang tinggi, ternyata beliau waktu kecil sudah dididik tentang kemandirian agar memiliki etos kerja yang tinggi dengan cara memelihara kambing dan ayam petelur milik Bu Lik Umi Kultsum. Dengan memelihara kambing dan ayam petelur inilah, beliau mendapat pelajaran bagaimana membimbing umat islam, dan bagaimana menjadi pemimpin.

Pendidikan Dini

Saat duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah sampai sebelum belajar di Malang, anak kedua dari delapan bersaudara ini mulai belajar ilmu nahwu, shorof, tasawuf dan ilmu fikih kepada Kyai Ridwan dan Kyai-Kyai lain di Blitar. Sejak SMP, beliau diminta mengajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil lainnya kepada anak-anak dan tetangga beliau. Pada usia yang masih belia tersebut, beliau sudah mengkhatamkan dan faham kitab Mutammimah pada saat beliau kelas 3 SMP.

Selepas dari SMP Hasanuddin, beliau melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Tlogo Blitar. KH Marzuqi Mustamar muda merupakan pemuda yang beruntung sebab di usia beliau yang masih belia itu, beliau sudah mendalami ilmu agama ke beberapa orang kyai di Blitar. Di antaranya, beliau mendalami ilmu balaghoh dan ilmu mantek kepada Kyai Hamzah. Mendalami ilmu fikih kepada Kyai Abdul Mudjib dan ngaji Ilmu Hadits kapada Kyai Hasbullah Ridwan.

Ketika beliau duduk di bangku Aliyah, beliau sudah khatam kitab Hadits Muslim dan kitab-kitab kecil lainnnya. Sebelum beliau belajar di Malang, selama di Blitar yang mengajar beliau adalah Orangtua beliau, Kyai Hasbullah Ridwan yang masih eyang beliau, Kyai Hamzah dan Kyai Mujib adalah guru beliau di MAN Tlogo.

Setamat dari MAN Tlogo pada tahun 1985, kyai kelahiran 22 September 1966 ini melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di IAIN (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim) Malang, yang waktu itu masih merupakan cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Untuk menambah ilmu agama yang sudah beliau dapat, Kyai yang juga Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang ini nyantri kepada KH A Masduqi Machfudz di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono. Mengetahui kecerdasan dan keilmuan Kyai Marzuqi yang di atas rata-rata santrinya yang lain, akhirnya Kyai Masduki memberi amanah kepada Kyai Marzuki untuk membantu mengajar di pesantrennya, meskipun saat itu Kyai Marzuki masih berusia 19 tahun. “Saat itu saya diminta untuk mengajar kitab Fathul Qorib bab buyuu’ (jual-beli),” Kenang kyai yang juga Dosen Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

Berguru pada KH Masduqi Mahfudz

Selain itu, KH Marzuqi Mustamar juga beruntung, karena beliau seringkali diminta untuk mendampingi dakwah KH A Masduqi Machfudz saat mengisi pengajian maupun dalam rapat-rapat organisasi kemasyarakatan. Dari sinilah Kyai marzuki mulai mengetahui betapa beratnya tugas seorang ulama dalam mengayomi umat. Dari gurunya yang juga Rois Syuriah NU Wilayah Jawa Timur itu, Kyai Marzuqi belajar akan keistikomahan menjadi seorang guru. Kyai Masduki Mahfudz itu meskipun pulang malam hari dari mengisi pengajian, beliau selalu membangunkan para santrinya untuk mengaji,” ungkap Kyai Marzuqi.

Salah satu kelebihan beliau, saat masih duduk di bangku kuliah, Kyai Marzuqi sudah biasa memberikan kursus nahwu kepada mahasiswa yuniornya. Namun, ternyata, banyak juga mahasiswa yang tidak hanya belajar nahwu, namun juga mengaji kitab kepadanya. Dengan begini, keilmuan beliau semakin terasah. Kemudian pada tahun 1987 Kyai berputra tujuh ini mendapatkan kesempatan belajar di LIPIA Jakarta. Setelah menempuh dua tahun masa studinya di sana, Kyai Marzuqi kembali ke Malang untuk membantu mengajar di pesantren Nurul Huda, Mergosono dan melanjutkan kuliah S-1.

Ringkasan Pendidikan

1. TK Muslimat Karangsono Kanigoro, Blitar tahun 1972
2. MI. Miftahul ‘Ulum, Tahun 1979
3. SMP Hasanuddin, Tahun 1982
4. MAN Tlogo, Tahun 1985
5. PP. Nurul Huda, Mergosono
6. LIPIA Jakarta, Tahun 1988
7. S-1 IAIN Malang, Tahun 1990
8. S-2 UNISLA, Tahun 2004

Jasa dan Karya Beliau

Selang satu bulan setelah menikah, KH Marzuqi Mustamar bersama istri mencoba mengadu nasib dan hidup mandiri. Saat itu Kyai Marzuqi memilih daerah Gasek, Kecamatan Sukun sebagai tempat jujugan beliau. Pada mulanya, beliau mencari rumah kontrakan yang dekat dengan masjid. Dan akhirnya, beliau ngontrak di rumah salah seorang warga yang bernama pak Har. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, Kyai Marzuqi akhirnya menempati tempat yang baru. Pada saat beliau boyongan, tak lupa santri-santri Pondok Nurul Huda ikut mengantarkan Kyai Marzuqi boyongan ke tempat barunya dan membantu usung-usung barang-barang dan kitab-kitab guru mereka.

Tanpa diduga sebelumnya, pada hari pertama beliau menempati rumah itu, ternyata sudah banyak santri yang datang mengaji kepada beliau. Di rumah yang sederhana itulah Kyai Marzuqi mengajar para santri beliau. Mereka yang waktu itu belajar merupakan cikal bakal santri dan pesantren beliau yang kini menjadi benteng utama umat di wilayah Gasek. Karena santrinya semakin bertambah banyak maka rumah beliau tidak memadai sebagai tempat belajar mereka. Namun, alhamdulillah, Allah SWT memberikan jalan. Waktu itu di daerah Gasek sudah ada Yayasan Sabilurrosyad yang sudah memiliki lahan luas. Namun, setelah beberapa tahun didirikan Yayasan ini belum bisa berkiprah secara optimal. Akhirnya Kyai Marzuqi bekerjasama dengan Yayasan Sabilurrosyad mendirikkan sebuah pesantren dengan Nama Sabilurrosyad.

Aktivitas

Selain sibuk membimbing para santri, kyai yang pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa Arab Universitas Islam Malang ini juga disibukkan dengan urusan ummat. Tiada hari tanpa memberikan pengajian atau mauidzhoh kepada umat. Mulai mengisi pengajian dari masjid ke masjid, blusukan keliling kampung dan lain sebagainya. Saat ini, KH Marzuqi Mustamar juga aktif di berbagai organisasi keagamaan di antara sebagai Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang dan anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang. Kedalaman ilmunya sangat dirasakan oleh umat. Sebagai contoh beliau menyusun sebuah kitab, tentang dasar-dasar atau dalil-dalil amaliyah yang dilakukan oleh warga nahdhiyyin. Melalui kitab ini, Kyai Marzuki ingin membuka mata umat bahwa amalan mereka ada dasar hukumnya, sekaligus menjawab tuduhan-tuduhan orang-orang yang tidak setuju dengan sebagian amaliyah warga Nahdhiyyin. Saking hebat dan lugasnya beliau menerangkan itu semua, sampai-sampai Kyai Baidhowi, Ketua MUI Kota Malang memberi julukan “Hujjatu NU”. “Kalau Imam al-Ghozali dikenal sebagai Hujjatul Islam, maka Kyai Marzuki ini Hujjatu NU” Demikian pernyataan Kyai Baidhowi dalam beberapa kesempatan.

Meski kegiatan beliau sangat padat, namun, Kyai yang juga penasehat FKUB ini tetap berusaha untuk menjadi orangtua yang baik. Beliau begitu dekat dan akrab dengan anak-anak beliau yang masih kecil-kecil itu. Tak jarang pula, beliau ikut mengantarkan atau menjemput putra putri beliau sekolah. Dari hasil pernikahan dengan Bu Nyai Saidah, Kyai marzuqi dikaruniai tujuh orang putra. Dua laki-laki dan lima perempuan. Semua putra putrinya disekolahkan di SD Sabilillah Blimbing. Kecerdasan Kyai Marzuqi sepertinya menurun kepada putra-putrinya, terbukti dengan nilai mereka yang seringkali mendapat nilai sempurna termasuk pelajaran eksakta. Bahkan beberapa waktu yang lalu putri beliau menjadi juara Olimpiade Matematika di Yogyakarta dan kini sekolah di SMP Internasional PASIAD milik negera Turki.

Jabatan:
1. Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang 2 periode
2. Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad
3. Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang
4. Dosen Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
5. Penulis tetap di Media Ummat rubrik Mutiara Hadits dan Tanya Jawab
6. Imam dan khotib, pemateri pengajian tetap Masjid Agung Jami’ Malang
7. Imam dan khotib, pemateri pengajian tetap masjid Sabililillah Malang dan banyak masjid besar lainnya

Karya Beliau

Pada tahun 2010 ada satu karya dari tulisan beliau yang monumental yang kini sudah puluhan kali cetak ulang dan disampaikan di hampir ke seluruh penjuru nusantara, yaitu Al-Muqtathafat li ahl al-Bidayat. Buku ini berisi sanggahan kepada beberapa kelompok terutama salafi wahabi yang suka membid’ahkan amaliah kaum Nahdliyyin, dikutip dari dalil-dalil Al-Quran, As-Sunnah dan kaidah Ushul Fiqh. Buku ini masih diperuntukkan untuk kalangan terbatas karena masih berbahasa Arab, yakni para pecinta ilmu, kalangan santri dan pengurus NU. Harapan beliau buku tersebut bisa disampaikan kepada orang lain, manakala sudah dibacakan dan diijazahkan oleh pengarangnya langsung.


Sumber : PWNU Jatim

Selasa, 01 Februari 2022

Susunan Pengurus PBNU 2022-2027, Banyak Pejabat dan Tokoh Perempuan


NUWA Online - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf mengumumkan susunan pengurus PBNU periode 2022-2027 pada Rabu (12/1/2022). Sejumlah politisi masuk dalam susunan pengurus PBNU 2022-2027. Pengurus PBNU 2022-2027 juga banyak diisi sosok perempuan.

 

Dilansir dari NU Online, susunan Pengurus PBNU masa khidmah 2022-2027 secara resmi diumumkan, di lantai 8 Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pada Rabu (12/1/2022). Pada kesempatan tersebut, hadir Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib 'Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Musthofa; Prof Nizar Ali; Nusron Wahid; dan Habib Hilal Al-Aidid, serta Sekretaris Jenderal PBNU H Syaifullah Yusuf.

 

"Alhamdulillah kami telah berhasil memutuskan pengurus lengkap PBNU di dalam rapat bersama formatur, yang diikuti oleh rais 'aam dan wakil-wakil rais 'aam yang ditunjuk, ketua umum terpilih, dan wakil ketua umum yang ditunjuk, serta para midformatur, yang melakukan rapat pada tanggal 5 Januari di Jakarta, dan dari rapat itu dihasilkan susunan lengkap PBNU," kata Gus Yahya di hadapan wartawan dari berbagai media.

 

Ia menjelaskan pula bahwa periode kepengurusan menjadi 2022-2027. Sebab Muktamar ke-34 NU dilaksanakan pada akhir tahun 2021, sedangkan surat keputusan tentang susunan kepengurusan ditetapkan pada 12 Januari 2022 dan berlaku hingga 12 Januari 2027.

 

Berikut susunan lengkap pengurus PBNU masa khidmah 2022-2027 berdasarkan SK PBNU bernomor 01/A.II.04/01/2022 yang terdiri dari mustasyar (dewan penasihat), pengurus harian syuriyah, a’wan (dewan pakar), dan pengurus harian tanfidziyah:

 

Susunan Pengurus PBNU MASA KHIDMAH 2022 – 2027

 

MUSTASYAR PBNU 2022-2027

  • KH. A. Mustofa Bisri AGH.
  • Dr. Baharuddin HS, MA
  • Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin KH.
  • Jirjis Ali Maksum
  • KH. Nurul Huda Djazuli
  • KH. Bunyamin Muhammad
  • KH. Anwar Manshur
  • H. Hasanoel Basri HG
  • KH. Dimyati Rois
  • KH. As'ad Said Ali Habib Luthfi Bin Yahya
  • Prof. Dr. KH. Machasin, MA
  • TGH. LM. Turmudzi Badaruddin
  • Prof. Dr. KH. Artani Hasbi
  • Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA AGH.
  • Habib Abdurrahim Assegaf
  • Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudz
  • KH. Muhammad Nuh Ad-Dawami
  • Nyai Hj. Shinta Nuriyah A. Wahid
  • KH. Abdullah Ubab Maimoen
  • Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid
  • KH. Zaky Mubarok
  • KH. Taufiqurrahman Subkhi
  • KH. Mustafa Bakri Nasution
  • KH. Fuad Nurhasan
  • KH. Abdul Kadir Makarim
  • KH. Muhtadi Dimyathi
  • Dr. Muhammad A.S. Hikam, MA, APU
  • KH. Ulin Nuha Arwani Drs.
  • KH. Ahmad Chozin Chumaidi
  • Habib Zein bin Umar bin Smith
  • KH. Muhammad Hatim Salman, Lc
  • KH. Muhammad Romli
  • H. Herman Deru, SH, MM

 

SYURIYAH Rais 'Aam PBNU 2022-2027: KH. Miftachul Akhyar

Wakil Rais Aam PBNU 2022-2027:

  • KH. Anwar Iskandar
  • KH. Afifuddin Muhajir

 

Rais PBNU 2022-2027:

  • KH. Muhammad Mushtofa Aqiel Siroj
  • KH. Abun Bunyamin Ruhiyat
  • KH. Ali Akbar Marbun
  • Prof. Dr. KH. Zainal Abidin
  • KH. Idris Hamid
  • KH. Adib Rofiuddin Izza
  • KH. Abdullah Kafabihi Mahrus
  • KH. Ubaidillah Faqih
  • KH. Masdar Farid Mas'udi
  • KH. Aniq Muhammadun
  • KH. Azizi Hasbullah
  • Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA
  • KH. Mudatsir Badruddin
  • Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA
  • KH. A. Mu'adz Thohir
  • Dr. KH. Abdul Ghafur Maimoen, MA
  • KH. Bahauddin Nursalim
  • KH. Subhan Makmun
  • KH. Hambali Ilyas
  • KH. Imam Buchori Cholil
  • Prof. Dr. KH. Abd. A'la Basyir
  • KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc, MA, Ph.D
  • KH. Ahmad Haris Shodaqoh
  • KH. Moch. Chozien Adenan
  • KH. Abdul Wahid Zamas
  • KH. Abdul Wahab Abdul Gafur, Lc

 

Katib 'Aam PBNU 2022-2027:

KH. Ahmad Said Asrori

 

Katib PBNU 2027:

  • KH. Nurul Yaqin Ishaq
  • Dr. KH. M. Afifudin Dimyathi, Lc, MA
  • KH. Sholahudin Al-Aiyub, M.Si
  • Dr. KH. Hilmy Muhammad, MA
  • KH. Abu Yazid Al-Busthami
  • KH. Faiz Syukron Makmun, Lc, MA
  • KH. Athoillah Sholahuddin Anwar
  • KH. Muhammad Abdurrahman Al Kautsar
  • Dr. KH. Abdul Moqsith Ghazali, MA
  • KH. Reza Ahmad Zahid
  • Habib Luthfi bin Ahmad Al-Attas
  • Dr. KH. Abdul Ghofar Rozin
  • KH. Maksum Faqih
  • Dr. KH. Nur Taufik Sanusi, MA
  • KH. M. Syarbani Haira
  • KH. Muhammad Aunullah A'la Habib, Lc
  • KH. Ahmad Muzani Al-Fadani
  • KH. Sarmidi Husna
  • H. Ikhsan Abdullah, SH, MH
  • KH. Muhyidin Thohir, M.Pd.I
  • KH. Ahmad Tajul Mafakhir
  • Dr. HM. Asrorun Ni'am Sholeh,

 

MA A’WAN PBNU 2022-2027

  • Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf
  • H. Ahmad Sudrajat, Lc. MA
  • Habib Ahmad Al Habsyi
  • KHR. Chaidar Muhaimin
  • Dr. KH. Zaidi Abdad
  • KH. Najib Hasan
  • Dr. H. Endin AJ Soefihara, MMA
  • Dr. Ali Masykur Musa, M.Si, M.Hum
  • Dr. H. Imam Anshori Saleh, SH, MA
  • Dr. H. Anis Naki
  • Hj. Nafisah Ali Maksum
  • Dr. H. Agus Rofiudin
  • Hj. Badriyah Fayumi
  • KH. Matin Syarqowi
  • Hj. Ida Fatimah Zainal
  • H. Hamid Usman, SE
  • Hj. Dr. Faizah Ali Sibromalisi
  • KH. Muhammad Fadlan Asyari
  • Prof. Dr. Muhammad Nasir
  • Prof. Dr. Asasri Warni
  • Dr. H. Mochsen Alydrus
  • Dr. H. Muhajirin Yanis
  • KH. Masyhuri Malik Masryah Amva
  • KH. Mahfud Asirun
  • H. Misbahul Ulum, SE
  • KH. Yazid Romli, Lc, MA
  • Prof. Dr. Ali Nurdin
  • KH. Ahmad Ma'shum Abror, M.Pd.I
  • Dr. Rahmat Hidayat
  • Dr. Dany Amrul Ichdan, SE, M.Sc
  • Dr. Chaider S. Banualim, MA
  • Dr. H. Juri Ardiantoro, M.Si
  • KH. Abdul Muhaimin
  • Ir. H. Irsan Noor
  • H. Zainal Abidin Amir, MA
  • KH. Taj Yasin Maimun

 

TANFIDZIYAH PBNU 2022-2027

Ketua Umum : KH. Yahya Cholil Staquf

Wakil Ketua Umum :

  • KH. Zulfa Mustofa
  • KH. Sayyid Muhammad Hilal Al Aidid
  • Prot. Dr. H. Nizar Ali, M.Ag
  • H. Nusron Wahid, SE

 

Ketua :

  • Prof. Dr. KH. Moh. Mukri, M.Ag
  • KH. Hasib Wahab Chasbullah
  • Ny. Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, MA
  • H. Amin Said Husni, MA
  • H. Aizuddin Abdurrahman, SH
  • KH. Abdul Hakim Mahfudz
  • H. Umarsyah, S.IP
  • H. Ishfah Abidal Aziz, SHI, MH
  • Dr. H. Miftah Faqih
  • Ny. H. Alissa Qotrunnada Wahid, S.Psi
  • Drs. H. Amiruddin Nahrawi, M.Pd.
  • Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd
  • H. Sarbin Sehe, S.Ag, M.Pd.l.
  • Prof. Dr. H. Agus Zainal Arifin
  • Drs. H. Abdullah Latopada, MA
  • Dr. KH. Ahmad Fahrurrozi
  • Drs. H. Muhammad Tambrin M.M.Pd
  • Mohamad Syafi Alielha
  • H. Arif Rahmansyah Marbun, SE, MM
  • Padang Wicaksono, SE, M.Sc, Ph.D
  • Ir. Fahrizal Yusuf Affandi, M.Sc, Ph.D
  • H. Nasyirul Falah Amru, SE, MAP
  • H. Choirul Sholeh Rasyid, SE
  • Dr. H. Zainal Abidin Rahawarin, M.Si
  • H. Mohammad Jusuf Hamka
  • Dr. H. Eman Suryaman, SE, MM
  • H. Robikin Emhas

 

Sekretaris Jenderal : Drs. H. Saifullah Yusuf

Wakil Sekretaris Jenderal :

  • KH. Abdussalam Sohib
  • Prof. Dr. Ahmad Muzakki, M.Ag, SEA
  • H. S. Suleman Tanjung, M.Pd
  • Dr. H. Muhammad Aqil Irham, M.Si
  • Drs. H. Imron Rosyadi Hamid, SE, M.Si
  • Faisal Saimima, SE
  • Mas'ud Saleh
  • Ai Rahmayanti, S.Sos, M.Ag
  • H.M. Silahuddin, MH
  • H. Rahmat Hidayat Pulungan, M.Si
  • Habib Abdul Qodir Bin Aqil, SH, MA, LLM
  • Dr. Najib Azca
  • H. Syarif Munawi, SE, MM
  • Isfandiari Mahbub Djunaidi
  • H. Taufiq Madjid, S.Sos, M.Si
  • Dr. H. Muhammad Faesal, MH, M.Pd
  • H. Andi Sahibuddin, M.Pd
  • Drs. Lukman Khakim, M.Si
  • H. Nur Hidayat, MA
  • H. Lukman Umafagur, S.Hut, M.Si

 

Bendahara Umum :

  • H. Mardani
  • H. Maming

 

Bendahara :

  • H. Dipo Nusantara Pua Upa, SH, MH, M.Kn
  • H. Sumantri Suwarno, SE
  • H. Gudfan Arif
  • Nuruzzaman, S.Ag, M.Si
  • Hidayat Firmansyah
  • Nashruddin Ali
  • H. Ahmad Nadzir
  • H. Burhanudin Mochsen
  • Dr. H. Ashari Tambunan
  • Dr. Faisal Ali Hasyim, SE, M.Si, CA, CSEP
  • H. Aswandi Rahman
  • H. Fesal Musaad, S.Pd, M.Pd

 

Itulah daftar pengurus PBNU 2022-2027. Selamat bertugas pengurus PBNU 2022-2027.

Senin, 31 Januari 2022

Pengurus Tanfidziyah 2018-2023


SUSUNAN PENGURUS PWNU JAWA TIMUR

Masa Khidmat 2018 – 2023

TANFIDZIYAH

Ketua :
KH Marzuki Mustamar

Wakil Ketua :
KH Abdus Salam Sohibh
Dr KH Faharurrozi M.Pd
KH Reza Ahmad Zahid LC MA
Prof. Abd A’la M. Ag
KH. Abdurrahman Navis, Lc
Prof. Dr. H. Sonhaji Sholeh, DIP. IS
KH Drs A Jazuli Nur Lc
Dr M Fathurrozi, SE MSi
Dr H Ma’ruf Syah SH MH
Andry Dewanto Ahmad SH MH
Drs Misbahul Munir
Dr H Edy Suyanto SP F SH
Drs Ahsanul Haq M. Pd. I
Ir. M. Qoderi, MT

Sekretaris :
Prof. Akh. Muzakki, Grad Dip SEA, M.Ag, M.Phil, Ph.D

Wakil Sekretaris :
Dr H Muhammad Hasan Ubaidillah SHI MSi
H Husnul Yaqin SH
Dr Ahmad Muzakky
Dr Robith Fuad M Fil. I
KH Abdul Hakim Mafudz
HA Hakim Jayli, M, Si
Mohammad Syukron Dosi, SS
Drs. H. Abdul Mujib Syadzili, MSi
KH Fahim Fuad Jazuli
Ir Abdul Wahid Mahfudz
KH Najiburrahman Wahid

Bendahara :
Drs. H. Ec. A. Nur Hasan, MM

Wakil Bendahara :
H Rasidi
H Echwan Siswadi SE MM
H Ie
Ir Mathorurrozaq
KH Abdul Mun’im
H Nadim Amir
Dr H Iwan Zunaih
Nasruddin ST


Sumber : PWNU Jatim

Pengurus Syuriyah 2018-2023


SUSUNAN PENGURUS PWNU JAWA TIMUR

Masa Khidmat 2018 – 2023

SYURIAH

Rais :
KH. Anwar Manshur

Wakil Rais :
KH Anwar Iskandar
KH Agus Ali Masyhuri
KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH, MM.
KH Ubaidillah Faqih
KH A. Sadid Jauhari
Drs. KH. Abdul Matin Djawahir, SH.
KH Abdul Azim Kholili
Drs. KH. M. Nuruddin A. Rahman SH.
KH Yasin Asmuni
KH Farihin Muhsan
Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa, M. Si.
KH Masbuhin
KH Hadi Muhammad Mahfud
KH Hunain
KH Habib Zein bin Hasan Baharu
Habib Hadi Al Kaf

Katib : Drs. KH Syafrudin Syarif

Wakil Katib :
KH Romadlon Khotib
KH Muhammad Shalih
KH Hasyim Syafaat
KH Dzulhilmi
KH Athoillah Sholahuddin
KH Mas Cholil Nawawi
KH Ma’sum Faqih
KH Abdurrahman Al Kautsar
KH Syamsuddin MA
KH Abdul Mughits Miftach
H Soleh Hayat SH


Sumber : PWNU Online

Pengurus Mustasyar PWNU Jatim 2018-2023


SUSUNAN PENGURUS PWNU JAWA TIMUR

Masa Khidmat 2018 – 2023

MUSTASYAR

KH Zainudin Jazuli
KH Nawawi Abdul Jalil
KH Bashori Alwi
KH Miftahul Akhyar
KH Mudatsir Badruddin
KH Muhammad Jamaludin Ahmad
KH Zuhri Zaini
KH Abdul Ghofur
KH Idris Hamid
RKH Cholil As’ad Syamsul Arifin
KH Abdullah Kafabihi
KH Faishol Anwar
KH Ahmad Azaim Ibrohimy
Prof. Dr. H. Muhammad Nur, DEA
KH Mas Mansur Tholhah AS
KH Fuad Mun’in Jazuli
KH Tamim Romli
KH Hasyim Abbas, M.HI.
KH Afif Ma’shum
KH Abdul Sami’ Hasyim
Prof. Dr. H. Imam Suprayoga, M. Si
KH Fathul Huda
KH Abdul Nasir Badrus

download SK Pengurus Mustasyar PWNU Jatim 2018-2023

SK Pengurus Mustasyar PWNU Jatim

Lampiran 1

Lampiran 2

Sejarah NU


Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Sementara itu, keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana–setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisai pendidikan dan pembebasan.

Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi’dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.

Sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.

Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebsan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.

Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.

Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagi Rais Akbar.

Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy’ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU , yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Sumber : www.nu.or.id